Ramah Khusus Menlu Retno Marsudi kepala Diplomasi Vaksin: Membuka Akses, Meratakan Jalan

TIDAK LANGKAH SESAAT…

JANJIAN kilat, eksekusi kilat, pemaparan pula kilat. Itu cerita di pulih produksi wawancara khusus dan pengerjaan video ini.  

Berbincang lewat dunia maya, Kamis (14/1/2021) siang, Retno muncul dalam layar lebih awal dari agenda. Kata-kata pembukanya setelah mengucap tenteram, “Silakan dimulai, saya sudah jadi. ”

Pembicaraan biar lalu berlangsung dengan tempo berderap. Padat dan cepat.  

Di akhir wawancara, Retno yang kemudian berujar sendiri kalau diskusi kami teramat dalam bahasannya. Untunglah, sembari tertawa dia mengatakan itu.

Ada arah lain wawancara dengan Retno dengan akan kami sajikan sesegera mungkin pula, dalam artikel terpisah. Sedang rahasia, isinya.

Artikel ini sepenuhnya membahas tentang kecakapan vaksin, upaya-upaya yang dilakukan para diplomat untuk berkontribusi membantu Indonesia mendapatkan vaksin Covid-19.

 

 

Berikut ini adalah petikan lengkap wawancara khusus dengan Retno tentang diplomasi vaksin, dalam format hidangan tanya jawab:

Di awal,   kita sempat ragu bisa mendapatkan pasokan vaksin, karena politik vaksin cukup kompleks dan complicated. Dapat bercerita proses di belakang layar sehingga kita pada hari ini mendapatkan sejumlah komitmen untuk logistik vaksin ini, Bu?

Masuk 2021, aku bicara dengan tim saya. Kita rasanya seperti awal 2020. Hanya tantangannya agak berbeda.

Baru sekali itu kami mengevakuasi warga negara kita dari sebuah wilayah yang lockdown sebab virus.

In term sense of emergency -nya kami sudah rasakan (di awal 2020). Bahkan, di Kementerian Luar Negeri itu (sudah terasa) di Januari-Februari (2020), sebab kami sudah mulai evakuasi para-para mahasiswa kita terutama dari Wuhan.

(Evakuasi) itu merupakan sebuah exercise yang cukup rumit. Baru sekali ini kami mengevakuasi masyarakat negara kita dari sebuah wilayah yang lockdown karena virus.

Kalau mengevakuasi warga negara daripada wilayah konflik, itu sudah beberapa kali kami lakukan.  

Dan, virus ini—katakanlah sekarang sudah masuk satu tahun— kan tetap ialah barang yang baru. Pemahaman kita, pemahaman dunia, terhadap virus itu—sebetulnya apa, mutasinya seperti apa, cara pengendaliannya seperti apa—tidak bisa atau belum bisa dikatakan sudah lengkap. Dari waktu ke waktu tetap berubah.

Karena itu, kecepatan meng- adjust perubahan itu tentunya ialah syarat utama agar kita banget atau berupaya seoptimal mungkin sanggup merespons dinamika yang ada.

Nah , karena sifat emergency itulah maka sejak baru Indonesia diketahui (ada kasus positif Covid-19), kami sudah mulai bekerja.

Karena kami tahu ini akan jadi masalah besar—tidak hanya bagi Indonesia tetapi (juga) bagi dunia—, kami bergerak lekas.

Bergerak cepatnya dalam saat itu kami sudah ingat bahwa kita perlu alat-alat diagnostic,   yang pada saat itu hampir semua negara kekurangan.

& saya masih ingat, tiap keadaan kami saling telepon (dengan) para-para menteri luar negeri (negara lain) hanya untuk mengecek, “Kamu memiliki kelebihan? “, “Kamu punya (atau) enggak? “, “Kamu bisa share ataupun enggak? “, dan sebagainya.

(Yang seperti) itu berlaku tak hanya untuk diagnostic tetapi untuk therapeutic -nya.

Karena ini adalah virus baru, penyakit baru, theurapatic -nya, obatnya kan belum ada yang betul-betul obat buat Covid.

Teamwork menjadi jawaban dari upaya kita ini.

Oleh karena itu para ahli berusaha untuk mencoba kira-kira obat yang sejenis yang dapat diberikan untuk penderita Covid itu apa. Nah itulah yang kemudian kami kejar.

Tetap, mengenai masalah vaksin, kami bekerja juga cepat. Di awal kami berusaha untuk menjalin komunikasi secara banyak pihak.

Sebab banyak pihak, itu ada dengan merespons cepat, ada yang belum merespons saat itu. (Dari) yang merespons cepat, kami kemudian hubungan lebih intensif.

Tentunya, sekali lagi, pada saat bicara mengenai substansi keilmuannya, diplomat pasti tak paham, karena kami memang tidak ahli dari vaksin itu. Sebab karena itu teamwork menjadi jawaban lantaran upaya kita ini.

Kami tanya apakah (vaksin) secara platform begini-begini akan bisa (digunakan pada Indonesia) dan sebagainya dan sebagainya.

Tugas para-para diplomat adalah membuka akses, mencanai jalan, agar kita dapat akses pembicaraan, akses komitmen terhadap vaksin-vaksin, pengembang vaksin, yang kita hubungi.

Suruhan para diplomat adalah membuka akses, meratakan jalan, agar kita bisa akses pembicaraan, akses komitmen kepada vaksin-vaksin, pengembang vaksin, yang kita hubungi.

Zona , alhamdulillah, dari sejak awal memang, —saya ingat, waktu saya berkunjung ke Hainan, kemudian ke Tepung Dhabi, tidak lama kemudian hamba ke London, (berlanjut) saya ke Jenewa—, itu adalah dalam kerangka untuk men- seal komitmen-komitmen yang selama tersebut kita sudah bahas secara saksama.

Kemudian dinamika terjadi terus. Akhirnya, kalau per bercak ini yang dapat saya sampaikan adalah, selain Sinovac kita telah dapat mengamankan komitmen dari Astrazeneca, kita juga dapat mengamankan kontrak dari Novavax, plus kita pantas menjalin komunikasi dengan Pfizer.

Pfizer ini komunikasi kita sekarang intensif, Pak Menkes yang terus dari waktu ke masa bicara, karena memang ada kekhususan infrastruktur yang diperlukan. Karena cold chain -nya (untuk vaksin dari Pfizer) itu minus 70 derajat celcius, serta sebagainya.

Jadi bilamana kami bicara dengan para pengembang itu kami juga langsung mempertimbangkan kesiapannya di dalam (negeri). “Ini kita siap enggak dengan kalau kita memilih platform yang seperti ini? ” Tentunya kita hubungkan selalu dengan elemen kemanfaatan dan macam-macam.

(Komitmen vaksin dari) Sinovac, Novavax, kemudian Astrazeneca, (kemudian kita) sekarang jalin (komunikasi) dengan Pfizer, ini yang dari bilateral.   Sementara itu, ada yang kita bahas juga di multilateral. Jadi track -nya dua, (yaitu) track bilateral, track multilateral.

Di (pendekatan) multilateral itulah maka saya ke Jenewa. Saya ketemu dengan CEO Gavi, saya ketemu Dirjen WHO, dan sebagainya, adalah untuk memastikan kalau Indonesia menjadi salah satu negeri yang dapat memperoleh akses vaksin dari track multilateral.

Covax AMC 92 ialah 92 negara berpenghasilan menengah & bawah, negara berkambang, yang dengan khusus ingin dijamin kesetaraan aksesnya terhadap vaksin.

Dari waktu ke waktu kami melakukan komunikasi yang intensif, yang akhirnya kita masuk pada kelompok yang dinamamakan AMC Covax 92. (AMC 92 kependekan dari) Advance Market Commitment 92.

Intinya, ini adalah 92 negeri berpenghasilan menengah dan bawah, negara berkambang, yang secara khusus mau dijamin kesetaraan aksesnya terhadap vaksin. Indonesia masuk ke situ.

Jadi harapan kita ialah, dengan (Indonesia) masuk di Covax AMC 92, kita akan mendapatkan akses vaksin, range -nya adalah 3-20 persen dari populasi kita.

Tentunya, apakah kita akan mendapat (alokasi vaksin untuk) 3, 5, sampai 20 (persen populasi), akan sangat tergantung dari kesediaan vaksin yang dikumpulkan melalui track multilateral tersebut.

Tetapi, di bercak sekarang saya melihat tampaknya perkembagnannya cukup bagus. Yang dapat beta yakini, kita—semua negara AMC 92—tidak hanya akan dapat (alokasi vaksin untuk) 3 persen (populasi) tetapi sudah pasti lebih dari tersebut.

Cuma, di awal-awal pastinya ketersediaannya kan masih terbatas maka penerimaannya pun secara gradual.

Sejak range alokasi vaksin untuk 3-20 persen populasi, sudah pasti mampu tiga persen untuk the worst scenario?

Inggih, insyaAllah. InsyaAllah,   dapat .

Mekanisme pemasokan vaksin ini seperti apa? Bagaimana memastikan seal alokasi ini menguatkan kita benar-benar mendapatkannya?  

Tugas ana itu kan membuka jalan, meratakan aksesnya. Setelah itu pasti akan ada pembicaraan-pembicaraan yang sifatnya lebih teknis, termasuk masalah harga.

Nah, di situ kami enggak (terlibat langsung), karena kan kita bagi tugas. Namanya juga teamwork membentuk.

Karena kita masuk kelompok AMC 92, kita mendapatkan vaksin gratis daripada track multilateral.

Kami juga tidak boleh pretend buat tahu semuanya, terlibat semuanya juga tidak. (Namun), ada bagian dengan kami bisa terlibat, berkontribusi penuh, (dan) di situlah yang awak tebalkan (peran).

Istimewa untuk yang multilateral, karena kita masuk kelompok AMC 92, vaksin yang kita peroleh tidak berbea. Kita mendapatkan vaksin gratis dari track multilateral.

Kenapa gratis? Karena ini ada negara-negara donor, ada pembiayaan-pembiayaan yang dilakukan sebab pihak lain, agar—sekali lagi—semua negeri dapat memperoleh kesetaraan akses terhadap vaksin.

Dengan interpretasi, kita semua paham dari sejak awal, kalau kita tidak beroperasi sama, kita tidak menunjukkan solidaritas terhadap semuanya, maka pandemi tersebut akan panjang selesainya.

Oleh karena itu kalau kita mau selesai cepat, masing-masing negeri harus dapat mengatasi pandeminya, sehingga kalau dikumpulkan kita more or less akan sama selesainya.

Oleh karena itulah maka AMC 92 ingin dipastikan mendapatkan kesamaan akses terhadap vaksin melalui Covax facility .

Soal mencanai jalan, adakah peluang selain menyandarkan pemerintah untuk pengadaan vaksin Covid-19? Ada atau enggak kemungkinan untuk pihak lain untuk melakukan pemasokan mandiri tetapi menggunakan jalan dengan sudah diratakan Kemenlu?

Itu otoritasnya dalam Pak Menkes, nggih . Karena otoritasnya di bungkus Menkes, aku tak berani tanggungan.

Tapi kemungkinan itu saya kira terbuka. Cuma how serta when -nya saya tidak bisa menjawab sebab itu otoritasnya ada di Pak Menteri Kesehatan.

Ada atau tidak pengkajian tentang kemungkinan jalur mandiri pengadaan vaksin melalui perantaraaan Kemenlu?

Dibahas. Tapi sekali lagi saya tidak mempunyai otoritas untuk menyampaikannya, karena tersedia menteri yang memiliki full otoritas (untuk itu).

Aku betul disiplin dalam hal ini. Dalam artian kalau itu bukan bidangku, lebih baik yang memiliki dominasi yang menjawab. Tapi kalau bidangku, aku akan jawab sebanyak yang aku dapat jawab.

Nyuwun sewu, nyuwun sewu…

Mengaji juga: Menkes Buka Opsi Vaksin Covid-19 Mandiri, Diberikan bagi Kongsi untuk Karyawan

Adakah cerita seruan atau menantang dari diplomasi vaksin ini? Ini kan tetap objek yang extra ordinary sekalipun bagi Kemenlu, karena diplomasi sampai menjangkau hal teknis dan sangat intens begini?

Iya, kalau dilihat nggih di awal-awal.

Kalau kita cakap core business Kementerian Luar Negeri, core business para diplomat (adalah) politik asing negeri. (Itu) membentuk lebih banyak terkait masalah perdamaian.

Tentunya, dengan bergeraknya waktu maka bagian diplomasi ekonomi, diplomasi perlindungan WNI, diplomasi perbatasan, off course , jadi prioritas-prioritas pokok politik luar negeri Indonesia.

Itu kami sudah set dalam saat pemerintahan yang   baru, kami set untuk lima tahun. Kemudian yang kedua juga kami set lima tahun.

Nah, Oktober 2019 mulai tadbir baru. Kami sudah ngeset, OK  lima tahun ke depan kita akan sesuai apa.

Tiba-tiba pada Januari 2020 mulailah terjadi virus Covid-19 (di China). Di titik itulah kemudian saya dan awak duduk.

Saya sampaikan bahwa mau tidak mau kita harus refocusing prioritas.   Karena jika kita tidak refocusing maka—satu—kita pasti tidak bisa berkontribusi.

Kan diplomasi kudu berkontribusi kepada apa yang sedangkan diupayakan oleh pemerintah, kepentingan pada negeri kita, which is kepentingan seluruh negara sekarang adalah menangani pandemi ini baik dari sisi kesehatan tubuh maupun dari sisi dampak sosial ekonominya.

Oleh karena itu, satu diantara refocusing prioritas (Kementerian Luar Negeri) adalah membantu pemerintah dalam penanganan pandemi. Pilarnya dua, (yaitu) kesehatan dan dampak sosial ekonominya.

Dan, semua duta kita—aku punya satu tim khusus—, dari waktu ke waktu menelaah banyak mengenai urusan vaksin, mengenai urusan virus itu sendiri, & sebagainya.

Bukan berarti kami mau menjadi ahlinya, tetapi ini sudah menjadi—paling tidak utama tahun ini—bagian tugas kami. Oleh karena itu, pemahaman itu akan mempermudah awak untuk bicara dengan pihak asing.

Karena, sekarang jika bicara dengan siapa pun pada dunia ini pasti mereka bicara tentang Covid-19.

Oleh sebab itu, dari sejak awal kitakami berkontribusi—tidak hanya (dalam pengadaan) vaksin namun (juga) pada saat kita perlu perlatan diagonistic —di situ rekam jejak muslihat Indonesia kelihatan sekali. Bold , tebal sekali. Sejenis juga dengan pada saat kita memerlukan obat-obatan. Plus sekarang merupakan vaksin.

Terkait amanat baru sebagai Co-chair AMC 92, apa langkah strategis serta tantangannya? Apa pula kepentingan Indonesia dengan itu?

Alhamdulillah , pada pemilihan kemarin, cochair untuk Covac AMG Engagement Grorup, Menlu Nusantara memperoleh suara paling banyak. (Sebanyak) 41 persen suara yang meresap itu diperoleh oleh Indonesia.

Buat kita, ini sebuah kepercayaan dunia, terutama kepercayaan dari negara-negara berkembang, negara anggota AMC 92, kepada Indonesia.

Pada saat kita—untuk tataran dunia—bicara mengenai kepercayaan maka nilainya tidak bisa dihitung dengan uang. (Itu) satu, kepercayaan.

Yang kedua, setelah kepercayaan, then what ? Pastinya adalah tanggungan yang harus ditunaikan.

Kita berjuang untuk kita, sekaligus kita berjuang untuk negara-negara berkembang.

Oleh karena itu,   tanggung jawab yang harus ditunaikan Indonesia—memegang co-chairing untuk Covax AMC Engagement Group ini—adalah memastikan negara-negara berkembang mendapatkan kesetaraan akses terhadap vaksin. Itu prinsip.

Jadi, kita berjuang untuk kita, sekaligus kita berjuang untuk negara-negara berkembang. Di situlah yang saya sebutkan bahwa kepemimpinan Indonesia di dunia akan dilihat. Apakah kita akan mampu, selain memperjuangkan diri sendiri, memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang?

Karena, sekali lagi tadi saya sampaikan, pandemi ini hanya dapat diatasi dengan kerja sama dan solidaritas. Dan, Indonesia akan menunjukkan kerja sama serta solidaritasnya terhadap negara berkembang melalaikan posisi Indonesia sebagai Co-chair (Covax AMC 92).

Pada saat kesetaraan vaksin sudah, perkara berikutnya adalah, “Dapat (alokasi) berapa persen sih dari penduduk? Kapan gerangan? Jenisnya apa sih? Apakah negeri2 berkembang itu sudah siap infrastrukturnya? ”

(Pertanyaan-pertanyaan) tersebut termasuk tanggung jawab yang hendak dibahas di dalam pertemuan-pertemuan yang saya akan menjadi salah satu co-chair nya.

Co-chair (Covax AMC 92) itu ada tiga. Satu, co-chair dari Kanada, itu dia mewakili negara lulus. Yang dua, Indonesia dan Ethiopia, mewakili negara berkembang. Kemudian, kita tergabung dalam Covax AMC Engagement Group.

Jadi selain memperjuangkan kepentingan negara berkembang, tentunya kita perlu menjalin komunikasi secara negara2 maju.

Tantangannya terbesarnya apa? Negara maju itu kan punya uang dan produsen vaksin? Apa yang diantisipasi dari situasi ini?

Satu, tantangannya adalah pada saat kita bicara mengenai kesetaraan akses. Berarti kan jumlah vaksin dulu. Jumlahnya apakah mencukupi buat dunia.

Nah, kita lihat memang tidak semua pengembang datang dari negara maju. Jika kita bicara mengenai masalah Covax ACT Accelerator atau kita kata mengenai masalah Covax lah, di situ kan merupakan gabungan tidak hanya dari negara tetapi selalu ada manufacture , kemudian periset, dan sebagainya, & sebagainya.

Yang ingin kita pastikan (adalah) apakah jumlah vaksin cukup untuk semua negara dunia, dan (yang itu) beberapa pengembangnya datang dari negara lulus.   Itu satu.

Yang kedua, karena AMC 92 ini akan mendapatkan vaksin dengan gratis berarti diperlukan sebuah mekanisme pendanaan yang dapat meng- cover . Di situlah kita bicara dengan negara maju serta institusi-institusi keuangan dunia.

Yang ketiga, kita juga cakap dengan mereka dalam konteks kesiapan negara berkembang ini dalam menerima vaksin.   Sekali lagi, tadi saya bicara mengenai masalah infrastruktur.

Kemungkinan (tanggapan atau jawaban) di dalam pembicaraan tersebut saya belum tahu karena itu pekerjaannya belum mulai, tapi beta antisipasi. Isu mengenai masalah kesiapan infrastruktur dapat ktia sampaikan selalu dalam pertemuan-pertemuan Covax AMC Engangement Group.

Saya tadi lupa menambahkan manfaatnya bagi Nusantara (dari posisi di Covax AMC 92).

Dengan kita di situ maka kita tahu persis dinamika tantangan kemungkinan solusi dunia akan seperti apa. Nah, dengan memperoleh perspektif itu oleh sebab itu (itu) akan sangat berguna buat kita gunakan di dalam jati kita.

Itu tambahan dari apa yang saya sampaikan.   Dalam sekali ini diskusinya.

Waduh, tidak banyak yang tahu sedalam dan intens ini kontribusi Kemenlu di pengadaan vaksin…

Tapi memang betul-betul sih (kerja di Kemenlu)… 

Mengenai pemilihan saya (jadi) co-chair (Covax AMC 92), pengumuman itu kan masuk pukul 02. 00 WIB pagi buta, tanggal 13 (Januari 2021). Tik! Masuk pengumuman, dengan persentasenya, bahwa oh iya   sudah kepilih dengan suara tertinggi.

Itu enggak (lalu) “OK” terus tidur atau “Waa, sudah kepilih” terus tidur. Tidak. Langsung (menindaklanjuti dengan) hubungi PTRI Jenewa. Karena mereka kan sedang malam (tapi) belum terlalu malam. Jadi saya sudah komunikasi. OK . So, next, kita harus 1, 2, 3, da da da..

Langsung, dari situ saya sudah tiba nge-forward semua kepada tim Jakarta. Dah , mulai.

Teman-teman sebagian jam 02. 00 WIB tidur lah ya, wong jam 02. 00 malam (dini hari). Tapi, jam 04. 00 WIB, timku yang paling depan, sudah mulai ngerespons . Wah, ini jam 04. 00 WIB sudah mulai ngrespons, a ll the way seharian.

Jadi itu ya hidup kami ya sejenis itu.

Padahal banyak yang hanya terang diplomat itu serius-serius, tampilannya elegan…

Pakai jas ya? Padahal di pulih itu, woaaa … seru banget!

Rata-rata tidur berapa jam?

Penginnya paling sedikit enam tanda. Tapi yang khusus tanggal 12 (Januari 2021) menuju ke 13 (Januari 2021) itu nyaris tak tidur karena menunggu perhitungan (suara dukungan untuk posisi co-chair Covax AMC 92).

Akan tetapi, selama ada krisis, (seperti) masa (evakuasi WNI dari) Wuhan itu, juga itu betul-betul malam dengan panjang sekali, karena kami memantau terus (proses evakuasinya).

Waktu kami evakuasi misalnya masyarakat negara kita dari Yaman, itu juga (jadi malam panjang).

Banyak sekalilah malam-malam (kami) yang dilalui dengan seperti itu. Itu sangat banyak.

Tapi sekali lagi, it’s part of my job.   So, (itu) harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya.